
Lalu, coba kalian pikirkan, apa kebutuhan kalian saat ini? Pastinya kalian membutuhkan air, udara, dan tempat tinggal, beserta kebutuhan lainnya seperti hiburan, ataupun game baru yang baru keluar.
Dari keseharian dan kebutuhan kalian, tentunya berbagai kegiatan bisa memerlukan uang. Saat kita mandi, kita tentu saja memakai air, kita bisa mendapatkan air dari sumur, namun untuk akses air bersih, tentu saja kita membutuhkan akses air dari PDAM setempat, yang tentu saja berbayar. Contoh lainnya, saat kita makan, tentu saja dibutuhkan uang untuk membeli makanan tersebut. Jika kalian memasak sendiri, pastinya dibutuhkan uang untuk membeli bahan-bahannya bukan?
Di paragraf-paragraf sebelumnya, kita sudah membahas soal keseharian dan kebutuhan kita, yang tentunya memakan biaya, namun, kok kita belum pernah ditagihkan uang ya? Padahal kan katanya memakan biaya?
Tentu saja tidak ditagihkan, karena biaya kebutuhan dan keseharian kita dipenuhi oleh AYAH kita. Dan kali ini pun saya akan membahas tentang perjuangan ayah kita untuk memenuhi segala biaya dari kebutuhan kita. Perjuangannya mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya sungguh luar biasa, dari pagi hingga malam selama seminggu.
Siapa ayahmu? Apakah dia seorang pejabat, pekerja kantoran, atau tukang bangunan? Sedangkan aku, apa pekerjaan ayahku? Dia adalah seorang pekerja pajak (taxman) yang sekarang bertugas di Garut, jauh dari keluarga. Dia sudah jauh dari keluarga sejak aku masih kelas 1 SD karena ditugaskan ke Padang Sidempuan, sebuah kota di Sumatera Utara sampai 2019.
Bagaimana dia bisa tahan jauh dari keluarga? Tentu saja ia tak tahan, namun setiap tugas harus dijalankan dengan penuh tanggungjawab. Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan ini dengan tepat, mari kita flashback ke masa mudanya.
Ayahku lahir di Bandar Jaya, Lampung Tengah, pada 4 April 1978. Keluarganya pindah ke Kota Metro di saat ia berumur 3 tahun karena ayahnya pindah tugas. Ia lantas bersekolah di SD Muhammadiyah Metro dan melanjutkan SMP di SMPN 1 Metro.
Seusai lulus SMP, ia melanjutkan SMA di luar kota, yakni di SMAN 2 Bandar Lampung yang berjarak lebih dari 30 kilometer dari rumahnya. Karena jaraknya yang jauh, akhirnya ia memutuskan untuk "ngekos" di Bandar Lampung. Tentu saja ini merupakan pertama kali ia jauh dari keluarga.
3 tahun kemudian, setelah lulus SMA, ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan kuliah D3 di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Lalu ia melanjutkan S1 dan S2 di Universitas Indonesia. Tak lama kemudian ia menikah dengan bundaku.
Ayahku dari dahulu memang sudah jauh dari keluarga, namun tetap saja ia teguh demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ayahku yang sekarang bekerja di Garut ini pulang setiap akhir minggu, dan balik lagi ke Garut hari Minggu atau Senin.
Jarak rumahku ke Garut cukup jauh, hampir 300 km, dengan total waktu perjalanan 5 jam. Aku salut dengan ayahku yang telah banting tulang untuk biaya sekolahku, namun aku merenung, apakah aku sudah membalas perjuangan ayahku yang sudah bekerja keras ini?
Nyatanya tidak, aku tidak terlalu berprestasi di sekolahku. Aku terkadang malas belajar, malas les, malas ini-itu. Nilaiku juga terkadang naik turun, aku juga terkadang bolos les. Ternyata perjuangan ayahku tidak sebanding dengan usahaku, namun malah aku yang kebanyakan mengeluh "gapernah dibeliin game, gapernah dibeliin buku, sering dicuekin, bla bla bla...."
Nyatanya aku tidak pernah bisa membalas perjuangan ayahku.
Here's a meme

Terima kasih telah membaca blog ini.
Komentar
Posting Komentar